About

News Update :
Home » »

Penulis : eze yubie on Friday, 8 February 2013 | 08:09



ANATOMI MARMUT
(Cavia cobaya)








 
                                                          Oleh :
                                                        Nama         : Ludbizar
                                                        NIM           :D1e005 
                                                        Kelompok  :01
                                                        Asisten       :Anita Purnamasari





LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN 1



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2012
I.     PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Mamalia merupakan kelompok tertinggi dalam dunia hewan. Disebut  mamalia karena adanya kelenjar mammae (glandula mammae) pada hewan betina yang bersifat aprokin untuk menyusui anaknya. Anggota gerak depan pada mamalia dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali, berenang, dan terbang.
 Salah satu contoh hewan mamalia adalah marmut (Cavia cobaya). Marmut (Cavia cobaya) merupakam anggota mamalia yang berordo rodentia, yaitu ordo hewan pengerat seperti tikus dan kelinci yang mempunyai gigi pemotong seperti pahat dan berguna untuk memotong dan mengerat, tetapi makananya adalah tumbuhan.
Marmut merupakan salah satu hewan yang banyak dipelihara oleh manusia serta dapat digunakan sebagai bahan makanan karena mengandung protein hewani yang berguna bagi pertumbuhan tubuh. Marmot mempunyai glandula mammae yang menghasilkan air susu yang diberikan kepada anak-anaknya. Masa mengandungnya cukup lama yaitu sembilan minggu. Hewan ini paling banyak makan sayur-sayuran tetapi ada juga yang makan rumput.
 Marmot mempunyai suhu tubuh tetap, tidak terpengaruh terhadap lingkungan luar (homoitermis) dimana mereka dapat mempertahankan suhu tubuhnya apabila suhu lingkungan tidak kurang dari 180C dan tidak lebih dari 400C karena didukung oleh rambut yang tumbuh diseluruh tubuhnya. Kulit banyak mengandung kelenjar yaitu kelenjar sebacius, keringat, bau, dan susu. Tubuhnya terdiri dari caput, truncus, dan cauda yang dapat dibedakan dengan nyata. Caput dihubungkan oleh truncus dan leher. Hewan ini mempunyai kaki depan yang berjari lima, kaki belakang dengan empat jari dan bercakar, namun tidak memiliki taring. Cavia porcellus mempunyai badan pendek, kuat, dan bertelinga pendek.
Pada praktikum kali ini digunakan Marmut (Cavia porsellus) sebagai preparat karena Marmut mudah didapatkan, secara ekonomis relatif murah, susunan anatominya sudah lengkap sehingga mudah untuk diamati dan mampu mewakili ordo rodentia lainnya.













B.     Tujuan
Tujuan dari praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan 1 kali ini adalah untuk melihat anatomi Marmut (Cavia porsellus).







II.      KERANGKA PEMIKIRAN

Mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutupi oleh rambut. Kelenjar mamae dipunyai oleh hewan betina yang tumbuh baik untuk menyusui anaknya. Anggota gerak depan dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali lubang, berenang dan terbang.  Kulitnya terdapat kelenjar keringat dan kelenjar minyak (Brotoatmojo, 1990).
Mamalia tubuhnya dapat dibedakan menjadi caput, truncus dan cauda. Caput dihubungkan dengan truncus dan leher. Cauda tidak memiliki homo sapiens ekstern, tetapi masih dimiliki homo sapiens intern yang memiliki vertebrae yang membentuk, walaupun jumlahnya hanya tiga yang mengalami reduksi (Radiopoetro, 1977).
Tubuh mamalia dilindungi oleh rambut-rambut. Kulitnya mengandung bermacam-macam kelenjar, di dalam alveolus yang bentuk dan besarnya berbeda-beda dalam dua induk (heterodon), menggali dan berenang. Jari kaki mempunyai cakar, kuku atau telapak. Jantung terbagi menjadi enpat ruangan dengan sekat-sekat yang sempurna. Lengkung aorta hanya satu, yaitu disebelah kiri. Paru-paru relatif besar dan hanya terdapat dalam rongga dada. Sekat rongga tubuh yaitu diafragma yang terletak antara rongga dan perut (Djuhanda, 1982).
Cavia porcellus termasuk ordo rodentia yang merupakan anggota mamalia yang bagian caecumnya berkembang lebih baik dari semua mamalia yang ada dalam satu spesies, jumlahnya kira-kira mencapai tiga ribu jenis (Moment, 1967).
            Marmut (Cavia porcellus) merupakan hewan pentadactyl (memiliki jari-jari yang bercakar), lengan bawah dapat pronasi dan suprinasi. Hewan ini tidak berekor dan memiliki glandula mamae untuk menyusui anaknya. Uterusnya bertipe duplex, merupakan tipe yang paling primitif dimana bagian kanan dan kiri uterus terpisah oleh adanya vagina pada hewan betina (Radiopoetro, 1986).
Mamalia diduga berasal dari reptil Sinodon (periodik Triassik) yang giginya berdiferensiasi. Ordo paling besar adalah rodentia, misalnya tandir beaver, tikus dan hewan-hewan kecil yang mempunyai gigi seri sebagai gigi pengerat. Kelenjar pada kulit mamalia antara lain sebacius, kelenjar keringat, kelenjar bau, dan kelenjar mamae. Pernafasan dengan pulmo, laring mempunyai tali suara, muscullus diafragmaticus sempurna memisahkan pulmo dan cor dengan rongga abdominalis. Ordo rodentia mempunyai tubuh kecil, beranggota badan, berjari lima dan berkuku (Hidelbrand, 1974).
Telur mamalia berukuran sangat kecil. Sumber makanan embrio berasal dari badan induk yang dilakukan oleh suatu organ pertukaran yaitu placenta dan tali pusar. Sistem sirkulasi induk dengan sirkulasi embrio atau fetus tidak berhubungan langsung. Ketika lahir, anaknya menerima secara terus menerus makanan dari induknya dalam bentuk air susu. Pertukaran udara pada mamalia terjadi di paru-paru disempurnakan oleh gerak rongga dada dan diagframa pada mamalia, septum jantung bersifat sempurna, dan memberi empat kamar yang benar-benar terpisah. Atrium kanan menerima darah miskin oksigen dari badan dan ventrikel kanan memompa darah yang kuat ke paru-paru untuk melepaskan karbondioksida dan mengambil persedian oksigen kembali ke atrium kiri dan dipompa keluar dengan kuat ke semua organ dan jaringan tubuh (Kimball, 1986).
Lidah marmut dilapisi oleh selaput lendir dan tonjolan-tonjolan kecil yang banyak mengandung sel-sel indra perasa yang berhubungan dengan saraf. Caecumnya berfungsi untuk cadangan makanan sementara, sedangkan pankreas berfungsi sebagai kelenjar cerna dan kelenjar buntu yang menghasilkan hormon insulin. Tubuh mamalia pada umumnya dapat dibedakan secara jelas antara caput, cervix, truncus, dan cauda. Mulut, lubang hidung, mata dan lubang telinga pada marmot terdapat pada bagian caput. Telinga marmot dilengkapi daun telinga (pina auricula), pada mulut terdapat labium inferior dan labium superior (Radiopoetro, 1986).















III.             ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

A.    Alat
Alat-alat yang digunakan adalah bak preparat, gunting, pinset, pisau, dan jarum penusuk.
B.    Bahan
Bahan yang digunakan adalah Marmut (Cavia porcellus), air kran, kloroform, formalin dan tissue.
C.    Cara Kerja
1.      Sebelum dilakukan pembedahan, dibius menggunakan kloroform sampai mati lemas.
2.      Rambut-rambut pada bagian ventral dibasahi agar pada waktu pembedahan rambut-rambut tersebut tidak beterbangan.
3.      Kulit dipotong menggunakan gunting mulai dari posterior di muka penis atau clitoris menuju ke anterior mengikuti garis medioventral badan sampai ke ujung mandibula.
4.      Kulit dibuka ke samping sampai otot-otot daerah abdomen dan thorax terlihat.
5.      Pembedahan daerah abdomen dimulai dari daerah inguinal menuju anterior mengikuti garis medan badan kemudian dilanjutkan ke lateral menyusuri diafragma sehingga otot daerah abdomen dapat dikuakkan dan organ-organ yang ada pada rongga abdomen dapat terlihat.
6.      Pembedahan dilanjutkan dengan pemotongan rusuk-rusuk di kiri sternum, pada bagian anterior sampai daerah ketiak, bagian posterior digunting lateral menyusuri diafragma kemudian bagian-bagian thorax diamati.
7.      Pengamatan pada bagian viscera insitu dapat dilihat dengan jelas dengan cara merentangkan bagian saluran pencernaan dan saluran urogenitalia dari marmut (Cavia porsellus).
8.      Organ-organ yang terlihat diamati dan dituliskan sebagai keterangan pada gambar yang ada pada diktat praktikum.




B.  Pembahasan

Menurut Radipoetro (1977) membagi klasifikasi Cavia porcellus sebagai berikut :
Kingdom         :  Animalia
Phylum            :  Chordata
Subphylum      :  Vertebrata
Superclass       :  Tetrapoda
Class                :  Mammalia
Subclass          :  Theria
Infraclass         :  Eutharia
Ordo                :  Rodentia
Familia            :  Cavia
Species            :  Cavia porcellus
Genus              : Cavia
Species            : Cavia porcellus
Mamalia diduga berasal dari reptil sinodom (periode triasisik) yang giginya berdefferensiasi. Ordo paling besar adalah rodentia, misalnya tandir beaver, tikus dan hewan-hewan kecil yang mempunyai gigi seri sebagai gigi pengerat. Kelenjar pada kulit mamalia antara lain sebacius, kelenjar keringat, kelenjar bau, dan kelenjar mamae. Pernafasan dengan pulmo, laring mempunyai tali suara, muscullus diafragmaticus sempurna memisahkan pulmo dan cor dengan rongga abdominalis. Ordo rodentia mempunyai tubuh kecil, beranggota badan, berjari lima dan berkuku (Hidelbrand, 1974).
Tubuh mamalia bersifat bilateral simetris dengan tulang rangka yang memilik tendo oksipital. Pada rahangnya tertanam gigi yang besarnya berbeda untuk setiap individu. Kaki mamalia beradaptasi untuk berjalan, kompak kenyal dan terletak di rongga dada. Kelenjar mulut mamalia selama masa pertumbuhan embrio sebagian besar dan menggeser dari tempat asalnya menjadi kelenjar monostomatika    (Jasin, 1989).
Klasifikasi Cavia porsellus termasuk ke dalam infraclass eutharia yaitu hewan-hewan yang disebut “mamalia berplasenta”. Istilah ini menyesatkan karena plasenta adalah organ yang menyempurnakan pertukaran fisiologis antara induk dan fetus. Pembuluh-pembuluh darah eutharia terdapat pada selaput allanthois dan beberapa eutharia tidak memiliki peredaran darah allanthois. Cavia porsellus termasuk ordo rodentia, dimana rodentia merupakan salah satu ordo dalam kelas mamalia yang paling besar (Hildebrand, 1974).
Mamalia khususnya marmut mempunyai glandula mamae yang menghasilkan susu yang diberikan kepada anaknya sebagai minuman pertama setelah lahir (Radiopoetro, 1977). Kaki depan bisanya lebih pendek daripada bagian belakang dan berfungsi untuk memegang makanan. Marmut termasuk hewan herbivore dan mempunyai sebuah caecum yang besar yang tumbuh sempurna dan berfungsi untuk menyimpan makanan. Marmut (Cavia porcellus) tubuhnya tersusun oleh caput, cervix, truncus, ekstrimitas posterior dan anterior dan caudal yang tumbuh rudiment. (Manter et.al, 1959). Caput dan truncus dihubungkan oleh cervix (leher). Cavia porcellus juga memiliki pinuae (daun telinga), memiliki denstes invisivus yang terdapat pada tiap belah rahang dan berbentuk pahat, tidak memiliki dentes canini, jumlah dentes premolars dan dentes molars ialah variabel (Walters, 1959). Tubuh marmut diisolasi oleh pembungkus (rambut dan subcutanya yang berlemak), dengan sistem ini maka metabolismenya tinggi dan akibatnya dibutuhkan banyak makan (Jasin, 1989).
Cavia porcellus mempunyai 2 anggota badan. Jantungnya terdiri dari 4 ruang masing-masing terpisah yang terdiri dari 2 atrium dan 2 ventrikel. Cavia porcellus termasuk hewan homoiterm (suhu tubuh tudak dipengaruhi oleh suhu lingkungan). Bagian tubuh luar Cavia porcellus terdiri dari nares externa, labium inferior, labium superior, palpebra superior, membran nictitans, crenalia, dan ekstrimitas caudalis (Radiopoetro, 1986).
Sistem pencernaan Marmut terdiri dari oesophagus, gastrum yang terdiri dari pars cardia, fundus dan pars pylorica, duodenum, jejunum, ileum, caecum (usus buntu), colon (usus besar) yang terdiri dari colon ascendens (yang mengarah ke atas), colon descendens (yang mengarah melintang), colon descendens ( yang mengarah ke bawah) dan colon zigmoideum ( colon terakhir), rectum merupakan usus akhir dari kotoran (feses) yang di keluarkan melalui anus. Hepar ( hati), terdiri dari 7 lobi, menghasilkan cairan empedu melalui ductus hepaticus dan disimpan dalam vesica felea ( kantong empedu). Pancreas, letaknya di antara duodenum yang berbentuk huruf  U. Lien ( limpa) letaknya dekat dengan lambung, berwarna merah seperti keping biji kacang ( Strorer, 1978).
Gastrum pada Cavia porcellus merupakan bentuk kantong sebagai lanjutan dari oesophagus. Lambung dapat dibedakan atas pars cardia yang merupakan tempat muara oesophagus kemudian pars pylorica sebagai bagian akhir yang selanjutnya bersambung dengan duodenum, dimana selain pars cardia dan pars pylorica, ada juga fundus sebagai ruang sebelah caudal dari cardia. Dindingnya banyak mengandung kelenjar-kelenjar yang mengeluarkan sekresi berupa pepsin dan HCl. Fundus mempunyai lengkung yang kecil disebut curvatura minor dan lengkung yang besar disebut curvatura mayor (Jasin, 1989).
Menurut Harris (1943) dan Jasin (1989) Cavia porcellus mempunyai kelenjar-kelenjar pencernaan yaitu hati dan pankreas. Hati merupakan suatu kelenjar yang besar dan berwarna merah kecoklatan yang terbagi atas beberapa lobi. Tiap lobi terdapat duktus hepatikus yang mengeluarkan sekresi ke vesica felea (kantong empedu). Pankreas terletak antara pars ascendens dan pars descendens dari duodenum berwarna merah muda dan bersaluran membentuk duktus pankreatikus, dimana didalamnya terdapat sel yang disebut insulae langerhensi (Island of Langerhans) yang menghasilkan sekresi (hormon) berupa insulin yang langsung masuk ke pembuluh darah. 
Sistem respirasi Marmut meliputi larynx (lekum), untuk mencegah masuknya cairan atau benda ke dalam trachea ( jalan nafas). Bagian dari larynx terdiri dari epiglottis (kelep lekum), berupa struktur lawan yang terulur dari bagian medio dorsal larynx sebelah anterior. Cartilago thyroidae, lawan larynx yang besar dan bentuknya menyerupai suatu perisai yang berbentuk U. Cartilago crycoidae, letaknya di sebelah poeterior dari cartilago thyroidae dan cartilago crythaenoidae, sepasang rawan-rawan yang agak memanjang. Trachea, tersusun oleh cincin-cincin rawan sebagai lanjutan dari larynx dan pulmo ( paru-paru), merupakan tempat berkumpulnya bronchiolus dan alveoli (Prawirohartono, 1993).
Sistem pernafasan marmut terdiri dari trchea, bronchus, bronchioli dan paru-paru. Trachea disokong oleh cincin-cincin rawan ang terbuka pada bagian dorsalnya, bekerja sebagai jalan nafas, pangkal dari trachea berupa rongga yangdisebut larink, cabang dari trachea adalah brobchioli. Paru-paru terdiri atas beberapa lobi terdapat dalam rongga pleural, selaput yang membungkusnya yang disebut pleura (Djuhanda, 1982).
Sistem urogenitalis pada Cavia porcellus meliputi sistem ekskresi dan sistem genitalia. Sistem ekskresi tersusun atas ginjal, ureter, dan uretra. Sistem genitalia betina pada marmut tersusun atas beberapa organ. Ovarium, tuba falopi, oviduct (Weichert, 1984).  Sistem genitalia jantan meliputi testis bulat terdapat dalam scrotum, ductus defferents, epididymis organ yang melekat pada testis yang tersusun atas caput epididymus, corpus epididymus, dan cauda epididymus dan ductus defferents, berpasangan berjalan ke sebelah dorsal dari vesica urinaria dan bermuara pada urethra di lanjutkan ke dalam penis. (Djuhanda, 1982). Glandul fertilisasi terjadi secara internal. Terdapat sepasang papilla mamae muara glandula mamae tidak mengalami sekresi. Terdapat lekukan pirenium pada bagian belakang penis yang merupakan lekukan yang dalam dan nampak selalu kotor. Lekukan ini merupakan tempat bermuaranya kelenjar bau yang digunakan sebagai tanda pengenal spesies dan hedonik atau pemikat lawan jenis (Brotowidjoyo, 1993).

V.    KESIMPULAN

1.         Marmut (Cavia porcellus) tubuhnya tersusun oleh caput, cervix, truncus, ekstrimitas posterior dan anterior dan caudal yang tumbuh rudiment.
2.        Sistem pencernaan Marmut terdiri dari oesophagus, gastrum, usus buntu, usus besar (colon), rectum dan anus.
3.        Marmut (Cavia prosellus) mempunyai kelenjar-kelenjar pencernaan yaitu hati dan pankreas.
4.        Sistem pernafasan marmut terdiri dari trchea, bronchus, bronchioli dan paru-paru.
5.        Sistem urogenitalis pada Cavia porcellus meliputi sistem ekskresi dan sistem genitalia. Sistem ekskresi tersusun atas ginjal, ureter, dan uretra. Sistem genitalia betina pada marmut tersusun atas beberapa organ. Ovarium, tuba falopi, oviduct. Sistem genitalia jantan meliputi testis, ductus defferents, epididymis.








DAFTAR REFERENSI

Brotoatmojo, M. D. 1990. Zoologi Dasar.  Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Brotowidjoyo, M. D. 1993. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari 4 Spesies Hewan Vertebrata. Amrico, Bandung.
Harris, C. 1943. Concepts in Zoology. State University of New York, New York.
Hildebrand, M. 1984. Analysis of Vertebrate Structure Second Edition. Jhon Wiley & Sons, New York.

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Avertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya.

Kimball, J. W. 1986. Biologi jilid II. Erlangga, Jakarta.
Manter, H. W. and Miller. 1959. Introduction to Zoology. Harper and Brothers, New York.

Moment, Graiduner B. 1967. General Zoology. Houghton Mifflin Company, Boston, USA.

Prawirohartono, S. 1993. Biologi. Yudhistira, Jakarta.
Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Radiopoetro. 1986. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Storer, T.I and R.L. Usinger. 1978. General Zoology. Mc Graw-Hill, New York.
Walter, H. E, Leonard P. Sayles. 1959. Biology of the Vertebrates. The Macmilan Company, New York.

Weichert, C. K. 1984. Element of Chordata Anatomy 4th  Edition. Mc. Graw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi.



               
    

Share this article :

+ comments + 2 comments

28 November 2013 06:36

thank you

14 March 2014 10:37

Your welcome

Post a Comment

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. DUNIA SUKSES . All Rights Reserved.
Design Template by Ludbizar | Support by Sahabat berfikir dan bercerita | Powered by Yubie Ooh